Selasa, 26 Februari 2013

CFC

CFC adalah klorofluorokarbon, yaitu senyawa-senyawa yang mengandung atom karbon dengan klorin dan fluorin terikat padanya. Dua CFC yang umum adalah CFC-11 (Trichloromonofluoromethane atau freon 11) dan CFC-12 (Dichlorodifluoromethane).CFC merupakan zat-zat yang tidak mudah terbakar dan tidak terlalu beracun. Satu buah molekul CFC memiliki masa hidup 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan. Pada tahun 1970-an, zat-zat kimia seperti chlorofluorocarbon (CFC) dan hydrochlorofluorocarbon (HCFC) sudah menyebabkan penipisan lapisan ozon. Zat kimia perusak lapisan ozon ini sangat stabil, sehingga bisa mencapai stratosfer secara utuh. Ketika berada di stratosfer, zat kimia ini diubah oleh radiasi ultraviolet dari sinar matahari dan mengeluarkan atom-atom klorin perusak ozon. Setelah lapisan ozon menipis, jumlah bahaya ultraviolet yang mencapai bumi bertambah antara lain menyebabkan perubahan ekosistem, kanker kulit, dan katarak.

Pada Protokol Montreal bulan September 1987, dicapai kesepakatan Internasional guna melindungi lapisan ozon. Kesepakatan itu antara lain produksi dan penggunaan CFC-11, CFC-12, CFC-113, CFC-114, halon, karbon tetraklorida, dan metil kloroform harus dihentikan, kecuali untuk penggunaan khusus. Selain itu, industri diharapkan mengembangkan bahan pengganti CFC yang bersahabat dengan ozon (ozone-friendly).

Pada zaman sekarang, banyak sekali kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi, barang yang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang banyak sekali yang menggunakan CFC. Sebagian dari mereka menggunakan CFC dengan cara yang tidak terkira banyaknya. Selama bertahun-tahun, senyawa-senyawa kimia tersebut secara luas dipakai untuk pendingin ruangan (AC), media pendingin pada lemari es (kulkas), bahan pelarut, bahan dorong, dan proses pembuatan plastik.

Selain itu CFC juga banyak digunakan sebagai blowing agent dalam proses pembuatan foam (busa), sebagai cairan pembersih (solvent), bahan aktif untuk pemadam kebakaran, bahan aktif untuk fumigasi di pergudangan, pra-pengapalan, dan produk-produk pertanian dan kehutanan.

a. Dampak CFC terhadap Ekosistem dan Lingkungan

Chloro Fluro karbon (juga disebut CFC) adalah gas terdiri dari tiga unsur Klor, Fluor dan Carbon. Mereka pernah digunakan secara luas sebagai pendingin dalam kulkas dan sebagai pendorong dalam kaleng aerosol. Saat itu ditemukan pada akhir 1970-an dan awal 1980-an bahwa CFC dari kulkas tua dan rusak dan kaleng aerosol tua secara bertahap menemukan jalan masuk ke bagian atas atmosfer di mana mereka merusak lapisan ozon. Lapisan ozon melindungi Bumi dari radiasi berbahaya. Sebagai result kerusakan, lubang-lubang mulai muncul di lapisan ozon di atas Kutub Selatan setiap musim panas, semakin besar setiap tahun. Akhirnya penggunaan CFC dalam aerosol dan kulkas di larang. Bukan hanya terdapat di dalam kulkas atau kaleng aerosol cfc pun di temukan di dalam AC, asap pembakaran pabrik, kendaraan, dan hutan. Pada dasarnya cfc tidak berbahaya, tetapi karena pemakaiannya yang berlebih cfc dapat merusak lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi matahari.

Cloro floro carbon juga menjadi salah satu pemegang andil dalam gas efek rumah kaca. Gas efek rumah kaca disebabkan oleh  karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.



Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat. Yang dapat mengakibatkan meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Tetapi di samping dampak negatifnya efek rumah kaca mempunyai efek positifnya yaitu menjadi alat penghagat untuk bumi.

Perubahan iklim adalah suatu fenomena yang tidak bisa di hindari lagi. Sekarang banyak penyebab yang mengakibatkan perubahan iklim terjadi. Kebanyakan aktifitas manusia yang menjadi penyebab paling besar contohnya asap pembakaran dari pabrik, kendaraan, dan pembalakan atau penebangan hutan secara liar. Menurut Intergovermental Panel on Climate Change ( IPCC ) temperatur permukaan panas bumi rata-rata meningkat dari 0,3 Celcius menjadi 0,6 Celcius  dalam kurun waktu 100 tahun terakhir, jika jumlah emisi gas rumah kaca terus terbentuk diatmosfir maka diperkirakan pada tahun 2030 temperatur bumi akan mengalami kenaikan sampai 1,5 Celcius- 4,5 Celcius.

Karena perubahan iklim alam menjadi rusak dan banyak terjadi bencana dimana-mana dan juga menaikan tempratur suhu bumi. Peningkatan temperatur panas bumi seperti ini akan menimbulkan perubahan iklim yang akan mengakibatkan naiknya permukaan laut,meluasnya padang pasir, pengasinan sumber air minum, banjir besar disetiap negara-negara kepulauan dan bencana kelaparan diseluruh dunia karena daerah-daerah pertanian akan musnah serta ekosistem akan mengalami kehilangan sebagian besar keanekaragaman species.

Selain daripada itu adalagi masalah yang diakibatkan oleh perubahan iklim yang berdampak pada perubahan air laut yang dapat mengubah populasi ikan,  perubahan curah hujan yang dapat mempengaruhi aliran sungai, penyimpanan air sungai yang berdampak bagi irigasi dan navigasi.

b. Dampak Terhadap Kesehatan Makhluk Hidup

Perubahan iklim terjadi akibat lapisan ozon yang semakin menipis yang di sebabkan oleh adanya radiasi matahari atau terperangkapnya panas matahari yang disebabkan oleh gas efek rumah kaca yang salah satunya gas cloro floro carbon atau biasanya lebih dikenal dengan CFC. Dampak bagi kesehatan mahluk hidup dari menipisnya lapisan ozon yaitu masalah pernapasan, berkurangnya sistem kekebalan tubuh.

c. Pengendalian dan Pencegahan

Ternyata banyak sekali dampak yang merugikan yang di sebabkan oleh perubahan iklim yang di akibatkan oleh cloro floro carbon dan banyak pencegahan yang dapat kita lakukan untuk menekan perubahan iklim lebih parah lagi dengan menjaga lingkungan kita. Contohnya salah satunya kita harus menjaga hutan dari pembalakan atau penebangan hutan secara liar. Karena hutan di areal hutan, tanaman menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan melepaskan gas oksigen ke atmosfer sebagai proses photosintesis. Laut juga termasuk salah satu daerah yang harus kita jaga. Terdapat istilah carbon sink yang sering di gunakan dalam bidang perubahan iklim. Istilah ini berkaitan dengan fungsi hutan dan laut sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (resevoir) karbon. Daratan maupun lautan berfungsi menjadi tempat menyerap gas karbon dioksida (CO2). Gas ini dapat diserap oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis, sedangkan di lautan, gas karbon dioksida digunakan oleh fitoplankton untuk proses fotosistesis, dapat tenggelam ke dalam laut beserta dengan pemakan fitoplakton dan predator tinggi lainnya. Proses perpindahan gas karbon dioksida dari atmosfer (lautan dan daratan) disebut sebagai carbon sequestration.

Selain itu diperlukan juga upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam program perlindungan lapisan ozon, pemahaman mengenai penanggulangan penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses, produk, dan teknologi yang tidak merusak lapisan ozon. Bila tidak, maka proses penipisan ozon akan semakin meningkat dan mungkin saja akan menyebabkan lapisan ini tidak dapat dikembalikan lagi ke bentuk aslinya.

Walaupun begitu, tetap saja penggunaan CFC tidak akan mudah lepas begitu saja dari kehidupan manusia.  Penghapusan penggunaan CFC di Indonesia, tampaknya tidak mudah dilakukan.  Terutama karena alat-alat pendingin yang ada sekarang, misalnya kulkas dan AC, mayoritas masih menggunakan teknologi berbasis CFC.  Untuk mengantisipasi penggunaan CFC berlebihan, telah ditemukan cara yang dinilai sangat bermanfaat.  Yaitu melakukan daur ulang CFC dan mencari bahan alternatif pengganti.

Mendaur ulang CFC, dibutuhkan alat yang disebut recovery CFC. Alat canggih seharga 60 juta rupiah ini,  dinilai sangat membantu mengurangi kebocoran molekul CFC ke udara.  Cara kerja alat recovery CFC, sangat sederhana. CFC lama di dalam alat pendingin, tidak perlu lagi diganti. Cukup mendaur ulangnya, sehingga menghasilkan CFC baru. Dalam mengurangi dampak penggunaan CFC, tidak hanya dilakukan dengan cara daur ulang.  Dapat juga melalui penggunaan bahan alternatif pengganti.  Salah satu  bahan penggantinya adalah Hydro Fluoro Carbon atau HFC.

Referensi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More